Mendadak Jadi Penulis?

Mendadak Jadi Penulis?

“Mbak, aku mau nanya dong..” sebuah instant message tiba-tiba muncul di PCku. Aku yang sedang sibuk dengan pekerjaan kantor terpaksa berhenti sebentar, kulihat siapa pengirimnya. Oh ternyata adalah salah satu rekan kerja di kantor. Barangkali penting nih, pikirku.

“Ya ada apa Nur?” jawabku.

“Mbak, gimana sih caranya jadi penulis, kok mbak bisa tiba-tiba jadi penulis gitu sih?” jawaban message dari Nur, temanku itu.

Aku diam sebentar. Menghela nafas. “Gimana caranya jadi penulis?“. Entah sudah berapa puluh kali aku menerima pertanyaan seperti ini. Sedangkan untuk pertanyaan kedua “Kok mbak tiba-tiba bisa jadi penulis sih?” terus terang aku baru kali ini mendapatkannya.  Pertanyaan kedua inilah yang membuat aku merasa geli-geli sebel. Enak aja aku dibilang mendadak jadi penulis?. Memangnya bisa mantera “sim salabim” mengubah sesorang menjadi penulis buku? Kekeke..

“Bukan mendadak jadi penulis Nur, aku mencita-citakan dan merintisnya sudah lama”. Dan sampai bisa menjadi buku itu prosesnya tidak bisa dikatakan instant. Tidak ada yang instant untuk mencapai sebuah cita, semua harus melalu proses perjuangan yang panjang.

Aku menjadi teringat pada kisah Alif di novel Ranah 3 Warnanya A. Fuadi. Aku paling suka cerita bagian ini, manakala Alif berjuang menjadi seorang penulis di surat kabar. Dalam ceritanya, dia berguru pada seorang wartawan senior bernama Bang Togar. Seorang yang dikenal sadis, galak dan sangat disiplin. Teman-teman Alif tidak ada yang sanggup menghadapi kejamnya kritikan bang Togar dalam hal tulis-menulis, tapi tidak dengan Alif, dia justru menjadikan ini sebagai pelecut buat dirinya. Mati-matian dia menulis artikel dalam tenggat waktu yang sangat ketat, sudah itu dia harus rela menghadapi kenyataan bahwa tulisannya mendapat “sabetan pedang dari sang pendekar” alias tulisannya dibabt abis, dianggap tak berbobot oleh Bang Togar. Alif tak menyerah, dia tetap berusaha merevisi, namun kejadin itu berulangkali terjadi. Hingga akhirnya dia mampu memuaskan Bang Togar dan tulisannya dimuat di majalah kampus.

Hmm..sungguh perjuangan yang tidak mudah. Demi meraih cita-cita, apapun mesti diperjuangkan. Man Jadda wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil, begitulah mantra sakti Alif yang telah menginspirasi banyak orang, termasuk diriku. Berbeda sedikit dengan Alif, mantra andalanku adalah “If you can dream it you can do it “ intinya hampir sama bukan? Kalau kita bisa memimpikan sesuatu maka yakinlah bahwa kita bisa meraihnya. Dan prinsip inilah yang kini mengantarkanku pada hal yang dulu kuimpikan yaitu menjadi penulis buku. Meski masih pemula banget, aku cukup bersyukur sudah ada karya yang nampang di toko buku J. Namun demikian mantra saktiku itu harus terus kuwujudkan, untuk mimpi-mimpi lain, mimpi yang lebih besar.

Jadi Nur…tak ada sesuatu yang bisa dicapai dengan instant, semua harus berproses. Kalau kamu bercita-cita menjadi seorang penulis juga, bermimpilah dahulu, lalu bangunlah dari mimpi, bergegaslah untuk mewujudkannya. Semoga berhasil kawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *